Prasangka Buruk
Kenapa tidak kita coba untuk sesekali menatap
‘wajah’Nya. Pandangi cinta-Nya dalam keharmonisan alam raya yang tak
pernah jenuh melayani hidup manusia, menghantarkan si pelayan setia
kepada hidup yang kelak lebih bahagia.
Pandanglah, insya Allah, kita akan mendapati jawaban kalau Sang Raja begitu sayang pada kita.
Di sebuah negeri zaman dulu kala, seorang pelayan raja tampak gelisah. Ia
bingung kenapa raja tidak pernah adil terhadap dirinya. Hampir tiap
hari, secara bergantian, pelayan-pelayan lain dapat hadiah. Mulai dari
cincin, kalung, uang emas, hingga perabot antik. Sementara dirinya
tidak.
Hanya dalam beberapa bulan, hampir semua pelayan berubah kaya.
Ada yang mulai membiasakan diri berpakaian sutera. Ada yang memakai
cincin di dua jari manis, kiri dan kanan. Dan, hampir tak seorang pun
yang datang ke istana dengan berjalan kaki seperti dulu. Semuanya datang
dengan kendaraan. Mulai dari berkuda, hingga dilengkapi dengan kereta
dan kusirnya.
Ada perubahan lain. Para pelayan yang sebelumnya betah berlama-lama di
istana, mulai pulang cepat. Begitu pun dengan kedatangan yang tidak
sepagi dulu. Tampaknya, mereka mulai sibuk dengan urusan masing-masing.
Cuma satu pelayan yang masih miskin. Anehnya, tak ada penjelasan sedikit
pun dari raja. Kenapa beliau begitu tega, justru kepada pelayannya yang
paling setia. Kalau yang lain mulai enggan mencuci baju dalam raja, si
pelayan miskin ini selalu bisa.
Hingga suatu hari, kegelisahannya tak lagi terbendung. "Rajaku yang
terhormat!" ucapnya sambil bersimpuh. Sang raja pun mulai memperhatikan.
"Saya mau undur diri dari pekerjaan ini," sambungnya tanpa ragu. Tapi,
ia tak berani menatap wajah sang raja. Ia mengira, sang raja akan
mencacinya, memarahinya, bahkan menghukumnya. Lama ia tunggu.
"Kenapa kamu ingin undur diri, pelayanku?" ucap sang raja kemudian. Si
pelayan miskin itu diam. Tapi, ia harus bertarung melawan takutnya.
Kapan lagi ia bisa mengeluarkan isi hati yang sudah tak lagi terbendung.
"Maafkan saya, raja. Menurut saya, raja sudah tidak adil!" jelas si
pelayan, lepas. Dan ia pun pasrah menanti titah baginda raja. Ia yakin,
raja akan membunuhnya.
Lama ia menunggu. Tapi, tak sepatah kata pun keluar dari mulut raja.
Pelan, si pelayan miskin ini memberanikan diri untuk mendongak. Dan ia
pun terkejut. Ternyata, sang raja menangis. Air matanya menitik.
Beberapa hari setelah itu, raja dikabarkan wafat. Seorang kurir istana
menyampaikan sepucuk surat ke sang pelayan miskin. Dengan penasaran, ia
mulai membaca, "Aku sayang kamu, pelayanku. Aku hanya ingin selalu dekat
denganmu. Aku tak ingin ada penghalang antara kita. Tapi, kalau kau
terjemahkan cintaku dalam bentuk benda, kuserahkan separuh istanaku
untukmu. Ambillah. Itulah wujud sebagian kecil sayangku atas kesetiaan
dan ketaatanmu."
***
Betapa hidup itu memberikan warna-warni yang beraneka ragam. Ada susah,
ada senang. Ada tawa, ada tangis. Ada suasana mudah. Dan, tak jarang
sulit.
Sayangnya, tak semua hamba-hamba Yang Maha Diraja bisa meluruskan
sangka. Ada kegundahan di situ. Kenapa kesetiaan yang selama ini
tercurah, siang dan malam; tak pernah membuahkan bahagia. Kenapa yang
setia dan taat pada Raja, tak dapat apa pun. Sementara yang main-main
bisa begitu kaya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar