Kematian bukan akhir dari segalanya, tapi hanyalah pintu untuk masuk ke alam kehidupan lainnya. Sebuah kehidupan abadi dimana manusia tak lagi punya hak memilih jenis kehidupan yang akan ia jalani seperti saat di dunia.
Di alam akhirat, ia hanya bisa menerima keputusan Sang Pengadil: hidup dalam nikmat selamanya atau sengsara selamanya.
Pintu itu adalah sakaratul maut, yang sangat menyakitkan bagi siapapun, termasuk bagi orang-orang beriman. Dan pintu ini amat menentukan nasib orang yang melewatinya. Jika ia mampu melaluinya dengan baik, maka kenikmatan abadi siap menyambutnya. Namun bila sebaliknya, maka azab pedih akan senantiasa menjadi temannya sejak di alam kubur.
Sesungguhnya kematian adalah haq, pasti terjadi, tidak dapat disangkal lagi. Allah SWT berfirman, artinya, “Dan datanglah sakaratul maut yang sebenar-benarnya. Itulah yang kamu selalu lari dari padanya.” (QS. Qaaf:19)
Siapakah di antara kita yang meragukan kematian dan sakaratul maut? Apakah ada orang yang meragukan kubur dan azabnya? Siapakah yang mampu menunda kematiannya dari waktu yang telah ditentukan?
Mengapa manusia sombong padahal kelak akan dimakan ulat? Mengapa manusia melampaui batas padahal di dalam tanah kelak akan terbujur? Mengapa menunda-nunda, padahalkita mengetahui kematian akan datang secara tiba-tiba
‘Kematian’…
sebuah kata yang tak asing terdengar di telinga kita. Sesuatu yang
diyakini seluruh umat manusia… ialah akhir dari kehidupan dunia.
Kedatangannya tak pernah diragukan, namun sedikit sekali yang bersiap
menyambutnya. Ialah tamu yang datang tanpa permisi dan masuk rumah tanpa
basa-basi
Berbagai cara ditempuh manusia demi menghindarinya. Namun… ibarat anak
panah yang melesat, ia semakin dekat dan dekat, hingga mencapai sasaran
pada waktu dan tempat yang ditentukan, tanpa meleset sedikitpun.
Tak
ada seorang pun tahu kapan kematian menjemputnya… ia pun tak tahu di
belahan bumi manakah pembaringan terakhirnya. Allah berfirman yang
artinya: “Dan tiada seorang jiwa pun yang mengetahui di belahan bumi manakah ia akan mati”
(Luqman: 34). Jikalau tempatnya saja tidak diketahui, padahal
mereka-reka tempat lebih mudah dari pada waktu, maka jelaslah bahwa
waktunya lebih tersembunyi lagi.
Dialah
penghancur segala kenikmatan duniawi, dan penghapus segala
kepedihannya. Andai saja mati adalah akhir dari segalanya, niscaya ia
menjadi primadona bagi setiap jiwa yang merana. Akan tetapi, tak lain ia
merupakan pintu pertama dari kehidupan selanjutnya… kesenangan tanpa
batas, atau azab yang tak kunjung lepas.
Wajarlah
jika manusia membenci mati, bahkan para salaf pun demikian. Suatu
ketika, Syuraih bin Hani’ -salah seorang tabi’in- mendengar sebuah
hadits dari Abu Hurairah ra, bahwa Rasulullah saw bersabda: “Siapa
senang berjumpa dengan Allah, maka Allah pun senang berjumpa dengannya.
Dan siapa tidak senang berjumpa dengan Allah maka Allah pun tidak senang
berjumpa dengannya”. Usai mendengarnya, ia bergegas menemui Ummul Mukminin ‘Aisyah ra seraya mengatakan: “Wahai Ummul Mukminin, aku mendengar sebuah hadits dari Abu Hurairah, yang jika benar demikian berarti kita semua celaka!”“Orang celaka ialah yang celaka karena sabda Rasulullah, ada apa memangnya?” sahut Ummul Mukminin. Rasulullah saw bersabda:
“Siapa senang berjumpa dengan Allah, maka Allah pun senang berjumpa
dengannya. Dan siapa tidak senang berjumpa dengan Allah maka Allah pun
tidak senang berjumpa dengannya, padahal tidak seorang pun dari kita melainkan benci terhadap kematian…!” ungkap Syuraih. Maka Ummul Mukminin menjawab: “Sungguh Rasulullah saw memang mengatakan seperti itu, akan tetapi bukan seperti yang kau fahami… hal itu ialah saat mata terbelalak, dada terasa sesak, kulit merinding dan jari-jemari kaku…
saat itulah siapa yang senang berjumpa dengan Allah, maka Allah pun
senang berjumpa dengannya. Dan siapa yang tidak senang berjumpa dengan
Allah maka Allah pun tidak senang berjumpa dengannya”.
Demikianlah gambaran singkat sakaratul maut… sesuatu yang pasti akan
kita rasakan. Saat napas tiba-tiba terasa berat… peluh membasahi sekujur
tubuh… bertaut betis kiri dan betis kanan, kemudian perlahan-lahan ruh
dicabut dari bawah ke atas. Itulah detik-detik perpisahan dengan dunia…
saat orang-orang bertakwa tersenyum melihat apa yang dijanjikan
untuknya, dan para durjana menyesali perbuatan mereka.
Semoga Allah s.w.t. menutup akhir hayat kita dengan Husnul Khatimah dan menerima semua amal shalih kita, Amin.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar